23 Juni 2013

Bukti Baru Kaitkan Kehancuran Peradaban Maya dengan Perubahan Iklim

Peradaban kuno Maya, yang mengembangkan budaya berkelas di tengah hutan hujan Amerika Tengah, Stalakmit di gua Yok Balum memberikan kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari catatan curah hujan. (Foto: Douglas Kennett, Penn State)menghilang secara misterius seribu tahun yang lampau. Sekarang, sebuah tim internasional beranggotakan antropolog, arkeolog, ahli kimia dan ahli iklim mengatakan bahwa mereka telah mengidentifikasi sebab kehancuran Maya: Perubahan iklim.

Untuk menciptakan catatan cuaca dalam 2.000 tahun terakhir, para ilmuwan menganalisa formasi mineral alami yang disebut stalakmit dari sebuah gua di Belize, menggunakan penanggalan oksigen-isotop untuk menentukan curah hujan yang jatuh di wilayah itu selama berabad-abad lamanya. Stalakmit dibangun secara bertahap, seperti lingkaran pohon, saat air menetes melalui langit-langit gua, menyimpan catatan iklim yang akurat.



Monumen batu seperti yang ada di Caracol, Belize, mendokumentasikan pertarungan, kelahiran dan kematian pada suku Maya. (Douglas Kennett, Penn State)Monumen batu seperti yang ada di Caracol, Belize, mendokumentasikan pertarungan, kelahiran dan kematian pada suku Maya. (Douglas Kennett, Penn State)
Penguasa Maya memerintahkan pembangunan monumen batu untuk mencatat peristiwa-peristiwa penting seperti naik tahta atau kekuasaan, pertarungan besar, konflik masyarakat dan kerja sama strategis. Profesor antropologi Douglas Kennett dari Universitas Negeri Pennsylvania, yang turut menulis penelitian ini, mengatakan timnya dapat membandingkan perubahan dalam masyarakat yang didokumentasikan dalam monumen-monumen tersebut dengan garis waktu iklim yang mereka buat.

Dalam sebuah siaran podcast untuk jurnal Science, Kennett mengatakan timnya melihat hubungan antara tingkat curah hujan dan stabilitas politik.

“Perkembangan kebudayaan Maya dan pertumbuhan penduduk serta tingkat kemajuan ternyata berkorelasi dengan interval curah hujan yang tinggi yang berlangsung beberapa ratus tahun. Dan kejatuhan Maya ternyata berkaitan dengan penurunan iklim secara umum dan pengeringan iklim,” ujarnya.

Curah hujan yang tinggi mengarah pada panen dan ledakan penduduk, namun pembalikan iklim dan musim paceklik yang mendorong kelaparan, persaingan politik, peningkatan perang dan pada akhirnya, kejatuhan masyarakat.

Para ilmuwan telah lama menduga bahwa perubahan iklim memainkan peran dalam jatuhnya peradaban Maya, namun catatan waktu persis, yang dipublikasikan dalam
Science  - membuat mereka yakin dengan hubungan itu. Kennett mengatakan metodologi yang mereka pakai dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman akan pengaruh iklim terhadap budaya kuno lain yang juga memiliki sistem gua yang serupa.
Peradaban kuno Maya, yang mengembangkan budaya berkelas di tengah hutan hujan Amerika Tengah, menghilang secara misterius seribu tahun yang lampau. Sekarang, sebuah tim internasional beranggotakan antropolog, arkeolog, ahli kimia dan ahli iklim mengatakan bahwa mereka telah mengidentifikasi sebab kehancuran Maya: Perubahan iklim.

Untuk menciptakan catatan cuaca dalam 2.000 tahun terakhir, para ilmuwan menganalisa formasi mineral alami yang disebut stalakmit dari sebuah gua di Belize, menggunakan penanggalan oksigen-isotop untuk menentukan curah hujan yang jatuh di wilayah itu selama berabad-abad lamanya. Stalakmit dibangun secara bertahap, seperti lingkaran pohon, saat air menetes melalui langit-langit gua, menyimpan catatan iklim yang akurat.



Monumen batu seperti yang ada di Caracol, Belize, mendokumentasikan pertarungan, kelahiran dan kematian pada suku Maya. (Douglas Kennett, Penn State)Monumen batu seperti yang ada di Caracol, Belize, mendokumentasikan pertarungan, kelahiran dan kematian pada suku Maya. (Douglas Kennett, Penn State)
Penguasa Maya memerintahkan pembangunan monumen batu untuk mencatat peristiwa-peristiwa penting seperti naik tahta atau kekuasaan, pertarungan besar, konflik masyarakat dan kerja sama strategis. Profesor antropologi Douglas Kennett dari Universitas Negeri Pennsylvania, yang turut menulis penelitian ini, mengatakan timnya dapat membandingkan perubahan dalam masyarakat yang didokumentasikan dalam monumen-monumen tersebut dengan garis waktu iklim yang mereka buat.

Dalam sebuah siaran podcast untuk jurnal Science, Kennett mengatakan timnya melihat hubungan antara tingkat curah hujan dan stabilitas politik.

“Perkembangan kebudayaan Maya dan pertumbuhan penduduk serta tingkat kemajuan ternyata berkorelasi dengan interval curah hujan yang tinggi yang berlangsung beberapa ratus tahun. Dan kejatuhan Maya ternyata berkaitan dengan penurunan iklim secara umum dan pengeringan iklim,” ujarnya.

Curah hujan yang tinggi mengarah pada panen dan ledakan penduduk, namun pembalikan iklim dan musim paceklik yang mendorong kelaparan, persaingan politik, peningkatan perang dan pada akhirnya, kejatuhan masyarakat.

Para ilmuwan telah lama menduga bahwa perubahan iklim memainkan peran dalam jatuhnya peradaban Maya, namun catatan waktu persis, yang dipublikasikan dalam
Science  - membuat mereka yakin dengan hubungan itu. Kennett mengatakan metodologi yang mereka pakai dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman akan pengaruh iklim terhadap budaya kuno lain yang juga memiliki sistem gua yang serupa.

Kota Suku Maya yang Hilang Ditemukan di Hutan Meksiko

Filep Karma dan putrinya, Audryne Karma

Tapol Papua, Filep Karma dan putrinya, Audryne Karma. Foto: Dok Audryne Karma
"Besok Bapa mau pergi kibarkan bendera dan mau orasi sedikit di Lapangan Trikora Abepura, kam dua jaga diri, kalau Bapa dapat tangkap dari polisi tidak usah kuatir, tidak usah lihat Bapa di kantor polisi. Tinggal dirumah saja dan pergi sekolah seperti biasa. Tuhan Yesus jaga kita semua," Itulah kata-kata terakhir Bapa sebelum dia ditangkap.
Nama saya Audryne Karma, putri sulung dari Filep Karma, seorang tahanan politik asal Papua. Bapa saya merupakan alumnus Universitas Sebelas Maret di Solo. Dia menikah dengan Mama, seorang Melayu-Jawa pada 1986. Mereka memiliki dua anak, saya dan adik, Andrefina Karma.
Pada tahun 1998 Bapa saya memulai advokasi untuk kemerdekaan Papua Barat dari Indonesia dengan cara damai. Tanggal 2 Juli, dia memimpin demonstrasi pro-kemerdekaan Papua Barat dan menaikkan bendera Bintang Kejora di tempat asal kami, Biak, Papua.
Selama 3 hari bendera dikibarkan dan Bapa melakukan orasi. Tanggal 6 Juli militer Indonesia mengambil alih dan melakukan tindakan kekerasan, lebih dari 100 demonstran dibunuh dan beberapa hilang sampai saat ini.
Bapa saya ditembak di kedua kakinya saat dia sedang berdoa ditempat kejadian. Pemerintah Indonesia gagal melakukan investigasi secara mendalam dan bertanggung jawab atas insiden 15 tahun lalu di Pulau Biak. Bapa saya divonis pengadilan 6 tahun penjara, namun 2 tahun kemudian dia dibebaskan setelah Gus Dur jadi presiden pada tahun 2000.
1 Desember 2004, Bapa dan beberapa teman melakukan aksi damai untuk memperingati hari kemerdekaan Papua, Bintang Kejora kembali dinaikkan di lapangan Trikora, Abepura, Jayapura. Polisi merespon dengan memukul orang-orang yang datang serta mengeluarkan tembakan. Sekitar 4 orang terluka, termasuk Bapa. Atas kasus ini, dia dijatuhi hukuman penjara 15 tahun atas tuduhan "makar."
Kasus Bapa mendapat perhatian besar dari sejumlah organisasi hak asasi manusia, nasional maupun internasional. Dia dianggap sebagai aktivis pembela hak asasi manusia dari Papua dan berusaha menyuarakan hati nurani orang papua, yang sering mengalami perlakuan diskriminasi, rasialisme dan penganiayaan.
Pada September 2011, sebuah kelompok kerja PBB, UN Working Group on Arbitary Dentention, mengadili kasus Bapa dan memutuskan dia tidak mendapatkan fair trial serta dinyatakan sebagai tahanan politik. Mereka meminta Pemerintah Indonesia untuk segera dan tanpa syarat membebaskan Bapa.
Namun, pemerintah menyangkal keberadaan tahanan politik di Indonesia hingga saat ini. Masalah Bapa dibahas lagi dalam sidang Universal Periodic Review PBB di Geneva pada Mei 2012. Belasan negara meminta tahanan politik di Indonesia dibebaskan, sekali lagi pemerintah menolak adanya tahanan politik.
Selama berada di penjara Abepura, Jayapura, Bapa  beberapa kali mengalami masalah kesehatan, mulai dari berat badannya yang turun dari 60 kilogram menjadi 49 kilogram akibat sanitasi dan gizi yang buruk di penjara, mengalami sakit prostat cukup berat, serta radang kronis pada usus besar.
Kami tidak punya banyak uang untuk biaya pengobatan dia, pemerintah juga tidak dapat menjamin biaya pengobatannya, namun beberapa simpatisan individu dan organisasi internasional banyak memberi bantuan sehingga dapat menutupi seluruh pembiayaan.
Sebagai anak dari Filep Karma, saya sedih dan kecewa terhadap pemerintah karena hukuman berat yang diberikan kepada Bapa. Ini memberikan pukulan psikis untuk kami sekeluarga. Kini ada lebih dari 70 tahanan politik di Papua.
Mereka menyuarakan aspirasi politik dengan damai, tanpa kekerasan termasuk Bapa. Sebagai warga negara Indonesia yang bebas mengeluarkan pendapat, saya mohon Anda menuntut pemerintah SBY segera dan tanpa syarat  membebaskan semua tahanan politik Papua.

Papua Barat resmi diundang pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Melanesian Spearhead Group (MSG) ke-18


Diplomat Papua di MSG, dari kiri ke kanan, John Otto Ondawame, Barak Sope, Paula Makabory, Rex Rumakiek, dan Andy Ayamiseba. Foto: penelusuran google.com
Kanaky, MAJALAH SELANGKAH -- Papua Barat resmi diundang pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Melanesian Spearhead Group (MSG) ke-18, 18 Juni 2013. Enam diplomat Papua Barat dari West Papuan National Coalition for Liberation (WPNCL), akan hadir di Noumea, Kanaky.
Informasi yang dihimpun majalahselangkah.com, Minggu (16/06/13), enam diplomat itu, Dr. John Otto Ondawame, Barak Sope, Andy Ayamiseba, Paula Makabory, Rex Rumakiek, dan media ini belum konfirmasi orang yang keenam. 
Ini juga dibenarkan Andy Ayamiseba di Port Vila, Vanuatu. Dalam sesi wawancara khusus dengan Radio Australia, ia mengatakan, "Delegasi kami akan dipimpin oleh Wakil Ketua kami, Dr. Otto Ondawame bersama lima orang delegasi lainnya."
Enam diplomat Papua Barat ini akan hadir karena WPNCL telah mendapat undangan dari negara tuan rumah KTT MSG. Kata Andy, ini pertama kalinya Papua Barat diundang secara resmi negara tuan rumah penyelenggara MSG. Dalam MSG Summit sebelumnya, WPNCL masuk dalam delegasi Vanuatu.
"Perjuangan bagi Papua Barat menjadi anggota resmi MSG akan menjadi satu terobosan besar dalam perjuangan kemerdekaan dari Indonesia," ujarnya.
Kata Andy Ayamiseba, dukungan dari berbagai komponen di Papua Barat meyakinkan masyarakat internasional. Jika pengajuan ini berhasil, ia yakin, akan meningkatkan status kampanye kemerdekaan Papua Barat. Sebelumnya, sebuah aplikasi telah diajukan untuk mendapat keanggotaan penuh di MSG.
Dari dalam negeri, dukungan bagi para diplomat Papua Barat yang tergabung dalam WPNCL maupun kepada negara-negara Melanesia serta penyelenggara MSG Summit terus digemakan. Dukungan dalam bentuk aksi demonstrasi berkali-kali digelar, baik di Tanah Papua, di Jawa hingga beberapa negara luar.
Perjuangan rakyat Papua Barat melalui para diplomat untuk didaftarkan ke MSG memang mendapat respon positif. Tetapi, Indonesia pun tak mau "pulau emas" ini lepas begitu saja. Berbagai trik terus dilakukan.
MSG di Noumea ibarat angin segar bagi Kanaky dan Papua Barat, dua wilayah koloni yang memunyai potensi sumber daya alam itu.
Politisi senior pendukung Free West Papua, Barak Sope dan pimpinan MSG, Peter Forau, sebagaimana dilansir Vanuatu Daily Post, berpendapat, sejarah kelam masa lalu rakyat Papua Barat mengundang simpati negara-negara Melanesia.
Selain, sumber daya alam yang sangat potensial tak bisa dibiarkan dikuras habis negara kolonial, sementara rakyat hidup dalam penderitaan dan kemiskinan.
"Harus diperhitungkan oleh masyarakat internasional," ujar Peter Forau.
Dukungan kepada dua wilayah terjajah ini, kata Forau, penting untuk mencapai independen secara politik di masa depan. Sebagai bagian dari rumpun Melanesia, negara anggota MSG akan bicarakan usulan keanggotaannya.
MSG Summit akan dilaksanakan di Noumea, Kanaky, oleh FLNKS (Front de Libration Nationale Kanak et Socialiste), 18-21 Juni mendatang. Lima anggota MSG: Vanuatu, Papua New Guinea, Solomon Island, Fiji dan FLNKS Kanaky, akan bahas soal status Papua Barat.
Hasil keputusan MSG Summit selanjutnya akan disampaikan ke tingkat kawasan regional Pasifik dan Melanesia, PIF, hingga tingkat dunia di Komisi dan Sidang Umum PBB.
Sebelumnya, KTT MSG ke-16 di Goroka, PNG, 19 Agustus 2005. KTT MSG ke-17 di Port Vila, Vanuatu, 14-15 April 2008.
MSG, sebuah badan resmi di bawah PIF (Pacific Islands Forum), yakni lembaga resmi dibawah Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Ia dibentuk berdasarkan "Agreed Principles of Cooperation Among Independent States of Melanesia" yang ditandatangani 14 Maret 1988 di Port Vila, Vanuatu. (SYO/Ist/MS)

Papua Barat resmi diundang pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Melanesian Spearhead Group (MSG) ke-18

Diplomat Papua di MSG, dari kiri ke kanan, John Otto Ondawame, Barak Sope, Paula Makabory, Rex Rumakiek, dan Andy Ayamiseba. Foto: penelusuran google.com
Kanaky, MAJALAH SELANGKAH -- Papua Barat resmi diundang pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Melanesian Spearhead Group (MSG) ke-18, 18 Juni 2013. Enam diplomat Papua Barat dari West Papuan National Coalition for Liberation (WPNCL), akan hadir di Noumea, Kanaky.
Informasi yang dihimpun majalahselangkah.com, Minggu (16/06/13), enam diplomat itu, Dr. John Otto Ondawame, Barak Sope, Andy Ayamiseba, Paula Makabory, Rex Rumakiek, dan media ini belum konfirmasi orang yang keenam. 
Ini juga dibenarkan Andy Ayamiseba di Port Vila, Vanuatu. Dalam sesi wawancara khusus dengan Radio Australia, ia mengatakan, "Delegasi kami akan dipimpin oleh Wakil Ketua kami, Dr. Otto Ondawame bersama lima orang delegasi lainnya."
Enam diplomat Papua Barat ini akan hadir karena WPNCL telah mendapat undangan dari negara tuan rumah KTT MSG. Kata Andy, ini pertama kalinya Papua Barat diundang secara resmi negara tuan rumah penyelenggara MSG. Dalam MSG Summit sebelumnya, WPNCL masuk dalam delegasi Vanuatu.
"Perjuangan bagi Papua Barat menjadi anggota resmi MSG akan menjadi satu terobosan besar dalam perjuangan kemerdekaan dari Indonesia," ujarnya.
Kata Andy Ayamiseba, dukungan dari berbagai komponen di Papua Barat meyakinkan masyarakat internasional. Jika pengajuan ini berhasil, ia yakin, akan meningkatkan status kampanye kemerdekaan Papua Barat. Sebelumnya, sebuah aplikasi telah diajukan untuk mendapat keanggotaan penuh di MSG.
Dari dalam negeri, dukungan bagi para diplomat Papua Barat yang tergabung dalam WPNCL maupun kepada negara-negara Melanesia serta penyelenggara MSG Summit terus digemakan. Dukungan dalam bentuk aksi demonstrasi berkali-kali digelar, baik di Tanah Papua, di Jawa hingga beberapa negara luar.
Perjuangan rakyat Papua Barat melalui para diplomat untuk didaftarkan ke MSG memang mendapat respon positif. Tetapi, Indonesia pun tak mau "pulau emas" ini lepas begitu saja. Berbagai trik terus dilakukan.
MSG di Noumea ibarat angin segar bagi Kanaky dan Papua Barat, dua wilayah koloni yang memunyai potensi sumber daya alam itu.
Politisi senior pendukung Free West Papua, Barak Sope dan pimpinan MSG, Peter Forau, sebagaimana dilansir Vanuatu Daily Post, berpendapat, sejarah kelam masa lalu rakyat Papua Barat mengundang simpati negara-negara Melanesia.
Selain, sumber daya alam yang sangat potensial tak bisa dibiarkan dikuras habis negara kolonial, sementara rakyat hidup dalam penderitaan dan kemiskinan.
"Harus diperhitungkan oleh masyarakat internasional," ujar Peter Forau.
Dukungan kepada dua wilayah terjajah ini, kata Forau, penting untuk mencapai independen secara politik di masa depan. Sebagai bagian dari rumpun Melanesia, negara anggota MSG akan bicarakan usulan keanggotaannya.
MSG Summit akan dilaksanakan di Noumea, Kanaky, oleh FLNKS (Front de Libration Nationale Kanak et Socialiste), 18-21 Juni mendatang. Lima anggota MSG: Vanuatu, Papua New Guinea, Solomon Island, Fiji dan FLNKS Kanaky, akan bahas soal status Papua Barat.
Hasil keputusan MSG Summit selanjutnya akan disampaikan ke tingkat kawasan regional Pasifik dan Melanesia, PIF, hingga tingkat dunia di Komisi dan Sidang Umum PBB.
Sebelumnya, KTT MSG ke-16 di Goroka, PNG, 19 Agustus 2005. KTT MSG ke-17 di Port Vila, Vanuatu, 14-15 April 2008.
MSG, sebuah badan resmi di bawah PIF (Pacific Islands Forum), yakni lembaga resmi dibawah Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Ia dibentuk berdasarkan "Agreed Principles of Cooperation Among Independent States of Melanesia" yang ditandatangani 14 Maret 1988 di Port Vila, Vanuatu. (SYO/Ist/MS)
Diplomat Papua di MSG, dari kiri ke kanan, John Otto Ondawame, Barak Sope, Paula Makabory, Rex Rumakiek, dan Andy Ayamiseba. Foto: penelusuran google.com
Kanaky, MAJALAH SELANGKAH -- Papua Barat resmi diundang pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Melanesian Spearhead Group (MSG) ke-18, 18 Juni 2013. Enam diplomat Papua Barat dari West Papuan National Coalition for Liberation (WPNCL), akan hadir di Noumea, Kanaky.
Informasi yang dihimpun majalahselangkah.com, Minggu (16/06/13), enam diplomat itu, Dr. John Otto Ondawame, Barak Sope, Andy Ayamiseba, Paula Makabory, Rex Rumakiek, dan media ini belum konfirmasi orang yang keenam. 
Ini juga dibenarkan Andy Ayamiseba di Port Vila, Vanuatu. Dalam sesi wawancara khusus dengan Radio Australia, ia mengatakan, "Delegasi kami akan dipimpin oleh Wakil Ketua kami, Dr. Otto Ondawame bersama lima orang delegasi lainnya."
Enam diplomat Papua Barat ini akan hadir karena WPNCL telah mendapat undangan dari negara tuan rumah KTT MSG. Kata Andy, ini pertama kalinya Papua Barat diundang secara resmi negara tuan rumah penyelenggara MSG. Dalam MSG Summit sebelumnya, WPNCL masuk dalam delegasi Vanuatu.
"Perjuangan bagi Papua Barat menjadi anggota resmi MSG akan menjadi satu terobosan besar dalam perjuangan kemerdekaan dari Indonesia," ujarnya.
Kata Andy Ayamiseba, dukungan dari berbagai komponen di Papua Barat meyakinkan masyarakat internasional. Jika pengajuan ini berhasil, ia yakin, akan meningkatkan status kampanye kemerdekaan Papua Barat. Sebelumnya, sebuah aplikasi telah diajukan untuk mendapat keanggotaan penuh di MSG.
Dari dalam negeri, dukungan bagi para diplomat Papua Barat yang tergabung dalam WPNCL maupun kepada negara-negara Melanesia serta penyelenggara MSG Summit terus digemakan. Dukungan dalam bentuk aksi demonstrasi berkali-kali digelar, baik di Tanah Papua, di Jawa hingga beberapa negara luar.
Perjuangan rakyat Papua Barat melalui para diplomat untuk didaftarkan ke MSG memang mendapat respon positif. Tetapi, Indonesia pun tak mau "pulau emas" ini lepas begitu saja. Berbagai trik terus dilakukan.
MSG di Noumea ibarat angin segar bagi Kanaky dan Papua Barat, dua wilayah koloni yang memunyai potensi sumber daya alam itu.
Politisi senior pendukung Free West Papua, Barak Sope dan pimpinan MSG, Peter Forau, sebagaimana dilansir Vanuatu Daily Post, berpendapat, sejarah kelam masa lalu rakyat Papua Barat mengundang simpati negara-negara Melanesia.
Selain, sumber daya alam yang sangat potensial tak bisa dibiarkan dikuras habis negara kolonial, sementara rakyat hidup dalam penderitaan dan kemiskinan.
"Harus diperhitungkan oleh masyarakat internasional," ujar Peter Forau.
Dukungan kepada dua wilayah terjajah ini, kata Forau, penting untuk mencapai independen secara politik di masa depan. Sebagai bagian dari rumpun Melanesia, negara anggota MSG akan bicarakan usulan keanggotaannya.
MSG Summit akan dilaksanakan di Noumea, Kanaky, oleh FLNKS (Front de Libration Nationale Kanak et Socialiste), 18-21 Juni mendatang. Lima anggota MSG: Vanuatu, Papua New Guinea, Solomon Island, Fiji dan FLNKS Kanaky, akan bahas soal status Papua Barat.
Hasil keputusan MSG Summit selanjutnya akan disampaikan ke tingkat kawasan regional Pasifik dan Melanesia, PIF, hingga tingkat dunia di Komisi dan Sidang Umum PBB.
Sebelumnya, KTT MSG ke-16 di Goroka, PNG, 19 Agustus 2005. KTT MSG ke-17 di Port Vila, Vanuatu, 14-15 April 2008.
MSG, sebuah badan resmi di bawah PIF (Pacific Islands Forum), yakni lembaga resmi dibawah Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Ia dibentuk berdasarkan "Agreed Principles of Cooperation Among Independent States of Melanesia" yang ditandatangani 14 Maret 1988 di Port Vila, Vanuatu. (SYO/Ist/MS)