23 Juni 2013

International support for West Papua grows

International support for West Papua grows with push to include the occupied nation in regional body

Wednesday, May 1, 2013
West Papua has been gaining international support recently, especially in its pursuit of inclusion in the Melanesian Spearhead Group (MSG), a regional intergovernmental organisation that has supported the independence movements of its members.
Controversially, Indonesia, which has occupied West Papua for decades, has had observer status in MSG since 2011.
The West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL) reported meeting with Fiji’s PM Voreqe Bainimarama on March 27 to discuss adding West Papua to the MSG. Bainimarama said “we will ensure that it will go through the proper process and that it is discussed at the next MSG Senior Officials Meeting”.
The meeting is scheduled for June in Noumea, New Caledonia. This was an important step as Bainmarama is current MSG chairperson.
On April 3, Vanuatu’s PM Moana Carcasses pledged his support for approving West Papua’s inclusion in the MSG and removing Indonesia’s observer status, said the Vanuatu Daily Post. Carcasses was recently installed as PM after the former PM Sato Kilman resigned just ahead of a no confidence motion.
One factor behind Kilman’s unpopularity was his lack of enthusiasm for West Papuan independence, which previous Vanuatu governments had been outspoken about.
WPNCL also reported meeting with Victor Tutugoro, head of New Caledonia’s Kanak and Socialist National Liberation Front (FLNKS) on April 11, who also pledged his support for West Papua, saying: “MSG is only for Melanesia and Liberation Movements within it, the FLNKs leadership would therefore be very happy to welcome the WPNCL as a new member in our Melanesian family. We open our heart and extend our hands to receive you the lost Melanesian son to come back into rightful Melanesian family.”
Promising signs have also been come from the usually wary Papua New Guinea. Solomon Star also reported PNG health minister Michael Malabag posted on social media that “sooner or later PNG has to ... bring it before the United Nations Assembly ... The West Papua issue bugs me all the time.”
On March 6, governor of PNG’s National Capital District Powes Parkop said in front of a crowd of 3000 people that “there is no historical, legal, religious, or moral justification for Indonesia’s occupation of West Papua”.
Conditions within West Papua show why international support for Papuan freedom is needed. On April 16, six West Papuan independence activists were sentenced to one year in prison for carrying dangerous weapons and treason. Their defence lawyers plan to appeal the sentence.
The “Timika Six” — Romario Yatipai, Steven Itlay, Yakonias Womsiwor, Paulus Marsyom, Alfred Marsyom and Yanto Awerkion — are members of the West Papua National Committee (KNPB), an organisation that led large non-violent demonstrations for West Papuan independence in recent years.
They were arrested in October last year by the Australian-funded Detachment 88. In June 2011, Detachment 88 troops shot dead Mako Tabuni, then-leader of KNPB.
The unit has been accused of human rights abuses in West Papua. West Papua Media said that “then-incoming Papua Police Chief, former Detachment 88 chief Tito Karnavian, exploited the brutal arrests to increase justification for use of Detachment 88 against political activists”.
The trial was deemed “opaque and farcical by observers”. A big part of the police’s case was that the accused were carrying explosives. But no such forensic evidence was given at the trials, despite the Australian Federal Police providing Detachment 88 with explosives and ballistic forensic testing capabilities.
Yatipai appealed for help, telling WPM: “We hope [the] International community ... support us and pressure Indonesia government, Indonesia Police in Papua and Timika”.
Tensions have risen since the armed wing of the Free Papua Movement (TPN-OPM) killed eight Indonesian soldiers in February. The government has tried to claim that it is pursuing a humanitarian, developmental approach, rather than militaristic, to solve the West Papua problem. This is despite reports of mass displacement and military occupation in the areas around the February shootings.
As if to demonstrate the government's double-speak, the Jakarta Post reported it announced the army will build 1520km of new roads in West Papua. This would mean an additional 1,000 military personnel in West Papua for the next two years.
The West Papua Advocacy Team said: “It appears likely that the military will develop roads to serve its interests, especially to enhance its tactical mobility and to facilitate its business interests, notably both legal and illegal timber operations. The expansion of the already bloated TNI presence in West Papua by 1,000 personnel will only exacerbate the burdens of that presence now born by the Papuan people.”
Survival International reported Papuan leader, Rev Socratez Yoman saying “The West Papuans do not need big roads, but a better life on their own land, without intimidation, terror, abuses and killings”.
Meanwhile, the Jakarta Globe reported a revival of a rights campaign to change the 1997 Law on Military Tribunals, which prevents military personnel from facing justice in a criminal court, an anti-corruption court or a human rights tribunal. These recent calls for amendment were sparked by an incident in Yogyakarta in March, where Kopassus (Army special forces) soldiers shot and killed four detainees accused of killing a fellow soldier during a brawl at a cafe.
Kopassus are another notorious unit that has been accused of human rights violations in West papua. Hendardi, the head of the Setara Institute, a democracy watchdog, said the law in its current form “makes the military untouchable by criminal law statutes”.

Direktris Yayasan Hak Azasi Manusia

Jayapura, MAJALAH SELANGKAH -- Direktris Yayasan Hak Azasi Manusia Anti Kekerasan (YAHAMAK) Timika, Papua, Mama Yosepa Alomang mengatakan Indonesia melakukan program terselubung untuk menghabisi orang asli Papua dengan berbagai program.
"Negara Indoensia stop dengan program-progaram yang nantinya membuat orang Papua habis perlahan sepert pemekaran, program Otsus Pus, UP4B dan lain-lain," tutur Yosepha saat menggelar Jumpa Pers di sekretariat Dewan Adat Papua (DAP), Expo, Waena, Senin (3/05/2013) lalu.
"Melihat situasi Papua pada umumnya serta melihat situasi perang di Kabupaten Nduga membuat saya menangis karena anak-anak yang keluar dari rahim Papua dibunuh perlahan-lahan oleh pemerintah NKRI melalui berbagi program yang dicanangkan," kata perempuan peraih Goldman Environmental Prize (Anugerah Lingkungan Goldman) 2001.
Sementara itu Wilem Rumasep yang hari-harinya bekerja di sekertariat DAP ini mengatakan, masalah di Nduga harus segera diselsesaikan oleh pemerintah dan kemudian disusul dengan proses penyelesaian secara adat dengan cara membayar kepala bagi pihak keluarga korban.
"Dalam hal ini, Bupati harus bersikap netral. Bupati  tidak boleh menjadi aktor konflik kasihan masyarkat sudah korban banyak," ungkap Willem.

Tanggapan juga datang dari salah satu pemuda asal suku Mee, Yustinus Edowai. Menurutnya, sudah cukup konflik terjadi hanya di kabupaten Puncak beberapa waktu lalu.
"Jangan lagi terjadi di Nduga. Kasihan masyarakat  kita sama-sama lihat pemerkaran ini dengan memakan korban yang banyak hanya karena kepentingan segelintir orang. Jadi kami juga meminta agar pemerintah kabupaten Nduga segera melakukan dialog untuk penyelesaian masalah perang saudara di Nduga ini sesegera mungkin," ungkap Edowai.
Sekedar ketahui, Mama Yosepha bersama seorang perempuan Papua lainnya, Mama Yuliana, pernah dimasukan ke sebuah tempat penampungan kotoran manusia selama seminggu. Kotoran manusia setinggi lututnya. Ia dicurigai membantu Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Mereka (TPN-OPM) wilayah Mimika, Papua. (MS)
Jayapura, MAJALAH SELANGKAH -- Direktris Yayasan Hak Azasi Manusia Anti Kekerasan (YAHAMAK) Timika, Papua, Mama Yosepa Alomang mengatakan Indonesia melakukan program terselubung untuk menghabisi orang asli Papua dengan berbagai program.
"Negara Indoensia stop dengan program-progaram yang nantinya membuat orang Papua habis perlahan sepert pemekaran, program Otsus Pus, UP4B dan lain-lain," tutur Yosepha saat menggelar Jumpa Pers di sekretariat Dewan Adat Papua (DAP), Expo, Waena, Senin (3/05/2013) lalu.
"Melihat situasi Papua pada umumnya serta melihat situasi perang di Kabupaten Nduga membuat saya menangis karena anak-anak yang keluar dari rahim Papua dibunuh perlahan-lahan oleh pemerintah NKRI melalui berbagi program yang dicanangkan," kata perempuan peraih Goldman Environmental Prize (Anugerah Lingkungan Goldman) 2001.
Sementara itu Wilem Rumasep yang hari-harinya bekerja di sekertariat DAP ini mengatakan, masalah di Nduga harus segera diselsesaikan oleh pemerintah dan kemudian disusul dengan proses penyelesaian secara adat dengan cara membayar kepala bagi pihak keluarga korban.
"Dalam hal ini, Bupati harus bersikap netral. Bupati  tidak boleh menjadi aktor konflik kasihan masyarkat sudah korban banyak," ungkap Willem.

Tanggapan juga datang dari salah satu pemuda asal suku Mee, Yustinus Edowai. Menurutnya, sudah cukup konflik terjadi hanya di kabupaten Puncak beberapa waktu lalu.
"Jangan lagi terjadi di Nduga. Kasihan masyarakat  kita sama-sama lihat pemerkaran ini dengan memakan korban yang banyak hanya karena kepentingan segelintir orang. Jadi kami juga meminta agar pemerintah kabupaten Nduga segera melakukan dialog untuk penyelesaian masalah perang saudara di Nduga ini sesegera mungkin," ungkap Edowai.
Sekedar ketahui, Mama Yosepha bersama seorang perempuan Papua lainnya, Mama Yuliana, pernah dimasukan ke sebuah tempat penampungan kotoran manusia selama seminggu. Kotoran manusia setinggi lututnya. Ia dicurigai membantu Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Mereka (TPN-OPM) wilayah Mimika, Papua. (MS)

Asal Mula Terjadinya Bumi Versi Peneliti

Beberapa versi yang dikemukakan oleh para ahli hingga sekarang ini, yaitu  :
  1. Pada tahun 1755 , filsuf jerman Immanuel Kant menyarankan bahwa sistem tata surya ( matahari, planet, bulan, komet, dll ) terbentuk dari suatu nebula ( yaitu masa bola tipis seperti kabut yang luas ). Teori Kant ini tidak begitu menggemparkan dunia ilmu pengetahuan.
  2. Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang naturalist Perancis George-Louise Leclerc, Comte de Buffon menjawab sendiri pertanyaannya, bagaimana bumi dilahirkan..?  Dia percaya bahwa berabad-abad yang lalu matahari bebenturan dengan komet dan sebagai akibatnnya, sejumlah besar materi dipaksa menghambur keluar dari matahari. Materi ini kemudian menjadi dingin dan berkembang menjadi planet-planet.
  3. Hipotesis Nebula Pierre Simon, Marquis de Laplace, seorang astronom matematika prancis, menolak teori Buffon dan mengajukan teori-nya sendiri pada tahun 1796. Teori ini disebut teori hipotesis nebula dan secara luas di terima sampai akhir abad XIX. Hipotesis ini menerangkan tentang berbagai seluk-beluk hipotesis nebula Kant walaupun Laplace mungkin tidak mengetahui sumbangan Kant. Menurut Laplace, anggota tata surya pernah suatu saat berbentuk massa gas besar yang bercahaya dan berputar perlahan-lahan. Massa ini berangsur-angsur mendingin, mengecil dan makin mendekati bentuk bola. Karena rotasi yang kecepatannya semakin lama makin tinggi massa tersebut menggelembung di sekitar garis khatulistiwa. Akhirnya suatu lingkaran materi terlempar dari daerah ini. Lingkaran itu menjadi dingin, mengecil dan akhirnya menjadi planet dengan orbit pada bidang yang semula ditempatnya. Lalu sebuah lingkaran dan sebuah lagi terlempar keluar dari pusat massa dan masing-masing menjadi seluruh planet. Akhirnya semua planet terbentuk. Massa yang ditengah menjadi matahari kita. Selanjutya, planet-planet itu sendiri melontarkan lingkaran ke ruang angkasa dan berubah menjadi satelit atau bulan.
  4. Hipotesis Planetesimal.  Sekitar tahun 1900 seorang astronom yang bernama Forest Ray Moulton dan seorang ahli geologi  yang bernama T.C. Chamberlin ( dari Universitas Chicago ), mengemukakan suatu teori baru yang mereka namakan hipotesis planetesimal. Planetesimal adalah benda padat kecil yang mengelilingi suatu inti yang bersifat gas. Menurut Moulton dan Chamberlin, sebuah bintang yang menembus ruang angkasa dengan cepat berada dekat sekali dengan matahari kita. Daya tarik yang makin meninggi antar akedua bintang itu menyebabkan bintang yang satu menaikkan pasang besar di bagian gas panas bintang yang lain. Pada saat pasang matahari yang disebabkan oleh tarikan bintang yang lewat menjadi bertambah besar, massa gas terlempar dari matahari  dan mulai mengorbit. Beberapa diantaranya mengikuti bintang lain ketika bintang itu meluncur ke ruang angkasa, sedangkan yang lain tertahan oleh daya tarik matahri yang mulai bergerak mengelilingi benda alam itu. Pasang matahari menurun kembali bila bintang lain itu mulai mejauh.  Massa gas yang terlempar dari matahari mapan dari suatu jalan yang teratur dari sekeliling matahari. Ketika massa gas menjadi dingin, gas itu berubah bentuknya menjadi cairan yang lama-kelamaan menjadi massa pada kecil. Pecahan-pecahan yang disebut planetesimal tarik-menarik dan akhirnya membentuk planet.
  5. Teori pasang. Pada tahun 1918, Sir James Jeans dan Sir Harold Jeffreys( dari Inggris ) menyusun teori pasang. Teori ini didasarkan atas ide benturan. Bebeda dengan Moulto dan Chamberlin, keduanya ini tidak percaya bahwa planet berasal dari sejumlah besar benda alam kecil-kecil atau plenetesimal. Mereka berpendapat bahwa planet itu lansung terbentuk dari massa gas asli yang ditarik dari matahari oleh bintang yang lewat dan bukan oleh penyusunan benda alam yang besar dan padat dari berbagai unsur kecil. Menurut teori pasang, ketika bintang mendekat atau bahkan menyerempet matahari kita, tarikan grafitasinya menyedoy filamen gas berbentuk cerutu pandang dari matahari sebuah filamen yang besar pada bagian tengahnya dan mengecil pada bagian ujungnya.
  6. Teori Lyttleton. Seorang astronom yang bernama R.A. Lyttleton memperkenalkan suatu gagasan yang jugamerupakan modifikasi dari teori benturan, dia mengemukakan bahwa matahari asalnya adalah suatu bintang kembar dan kedua bintang itu mengelilingi suatu pusat gravitasi..sebuah bintang lewat mendekati salah satu matahari ini dan mungkin telah menghancurkan dan merubah bentuknya menjadi massa gas besar yang berputar-putar. Bintang yang bertahan akan menjadi matahari kita, sedangkan korban benturan itu dalam selang waktu tertentu telah berkembang menjadi planet-planet. Dalam beberapa hal, hipotesis lyttleton ini memberikan penjelasan yang lebih baik tentang tata surya kita di bandingkan dengan teori benturan yang lain.
  7. Berbagai Modifikasi Hipotesis Nebula.  Astronom JermanC. von Weizsaeckar memperkenalkan hipotesis nebulanya dalam tahun 1940-an. Dia berpendapat bahwa suatu lapisan materi bersifat gas pernah muncul keluar sampai jauh skali dari sekitar garis khatulistiwa matahari jaman purba. Sebagiab besar  lapisan ini terdiri dari unsur ringan hidrogen dan helium. Akhirnya, tekanan panas dan radiasi matahari menghilangkan sebagian besar hidrogen dan helium serta meninggalkan unsur-unsur yang lebih berat. Unsur-unsur yang lebih berat itu secara bertahap berkumpul dalam suatu deretan konsentris yang berbentuk seperti ginjal. Deretan massa ini menarik bahan-bahan lain yang terdapat di ruang angkasa dan berkembang menjadi planet.
  8. Hipotesis Nebula yang lain juga di ajukan oleh astronom Belanda-Amerika bernama Gerald P. Kuiper. Dia menganggap bahwa dulu pernah ada suatu nebula yang berbentuk suatu piringan yang luas sekali denga protomatahari atau calon matahari berada di tengah-tengahnya. Komposisi keseluruhan nebula itu seragam, sehunya rendah karena protomatahari itu belum memancarkan sinarnya. Nebula dingin ini mulai pecah dan berkonsentrasi dalam massa-massa yang terpisah yaitu protoplanet atau calon planet. Materi yang tengah yaitu protomatahari juga berkonsentrasi dibawah daya gravitasi. Sambil menyusut materi itu menjadi semakin panas . Panas yang dipancarkan oleh protomatahari mengalau hampir semua unsur ringan ( khususnya hidrogen dan helium ) dari protoplanet dan nebula itu . Disetiap protoplanet sebagian unsur berat ( besi, nikel, dan beberapa logam lain ) akan berkonsentrasi di tengah.
  9. photo search by google:Bumi.com
  10. Teori awan-debu.  Suatu teori awan debu tentang jagat raya diperkenalkan oleh astronom AS Fred L. Whipple. Menurut Whipple, calon sistem tata surya semua merupakan awan luas yang terdiri atas debu dan gas kosmos yang di perkirakan berbentuk piring. Ketidakteraturan dalam awanitu menyebabkan terjadinya perputaran. Debu dan gas yang berputar berkumpul menjadi satu dan hilanglah awannya. Partikel-partikel keras di dalamnya saling berbenturan, melekat dan kemudian menjadi planet. Berbagai gas yang terdapat di tengah awan berkembang menjadi matahari.
Sejarah bumi dan kehidupan didalamnya……
  • Sejarah Bumi dan Kehidupan didalamnya
Bumi tempat segenap makhluk hidup termasuk manusia telah terbentuk kira-kira 4.600.000.000 tahun lalu bersamaan dengan planet-planet lain yang membentuk tatasurya dengan matahari dengan pusatnya.
Sejarah kehidupan di Bumi baru dimulai sekitar 3.500.000.000 tahun lalu dengan munculnya microorganisme sederhana yaitu becteri dan ganggang. Kemudian pada 1.000.000.000 tahun lalu baru muncul organisme ber sel banyak.
Pada sekitar 540.000.000 tahun lalu secara bertahap kehidupan yang lebih komplek mulai berevolusi. P3erkembangan tumbuhan di awali oleh pteridofita ( tumbuhan paku ), Gimnosperma ( tumbuhan berujung ) dan terakhir angiosperma ( tumbuhan berbunga ). Sedangkan perkembangan hewan dimulai dari invertebrate, ikan, amfibia, reptilian, burung dan terakhir mamalia, kemudian terakhir kali muncul manusia. Masa Arkeozoikum dan Proterozoikum bersama-sama dikenal sebagai masa prakambrium.
  • Masa Arkeozoikum ( 4,5 – 2,5 milyar thn lalu )
Arkeozoikum artinya Masa Kehidupan Purba. Masa Arkeozoikum ( arkean ) merupakan masa awal pembentukan batuan kerak bumi yang kemudian berkembang menjadi protokontinen. Batuan masa ini ditemukan di beberapa bagian dunia uang lazim disebut kraton/perisai benua. Batuan tertua tercatat berumur kira-kira 3.800.000.000 tahun. Masa ini juga merupakan awal terbentuknya Indrosfer dan Atmosfer serta awal muncul kehidupan primitive di dalam samudra berupa micro-organisma (bakteri dan ganggang). Fosil tertua yang telah ditemukan adalah fosil stromatolit dan Cyanobacteria dengan umur kira-kira 3.500.000.000 tahun.
  • Masa Proterozoikum (2,5 milyar – 290 juta thun lalu)
Proterozoikum artinya masa kehidupan awal. Masa Proterozoikum merupakan awal terbentuknya hidrosfer dan atmosfer. Pada masa ini kehidupan mulai berkembang dari organisme bersel tunggal menjadi organisme bersel banyak (enkaryotes dan prokaryotes). Menjelang akhir masa ini organisme lebih kompleks, jenis invertebrata bertubuh lunak seperti ubur-ubur, cacing dan koral mulai muncul di laut dangkal, yang bukti-buktinya dijumpai sebagai fosil sejati pertama. Masa Arkeozoikum dan Proterozoikum bersama-sama dikenal sebagai masa pra-kambrium.
  • Jaman Kambrium (590-500 juta t6hun lalu)
Kambrium berasal dari kata “Cambria” nama latin untuk daerah Wales, dimana batuan berumur kambrium pertama kali dipelajari. Banyak hewan invertebrate mulai muncul pada zaman Kambrium. Hampir seluruh kehidupan berada di lautan. Hewan zaman ini mempunyai kerangka luar dan cangkang sebagai pelindung. Fosil yang umum di jumpai dan penyebarannya luas adalah Alga, Cacing, Sepon, Koral, Moluska, Ekinodermata, Brakiopoda dan Artropoda (Trilobit). Sebuah daratan yang disebut Gondwana (sebelumnya pannotia) merupkan cakal bakal Antartika, Afrika, India, Australia, sebagian Asia dan Amerika Selatan. Sedangkan Eropa, Amerika Utara, dan Tanah Hijau masih berupa benua-benua kecil yang terpisah.

Sumber:http://tokohsejarah.blogspot.com/2011/01/asal-mula-terjadinya-bumi-versi.html

Bukti Baru Kaitkan Kehancuran Peradaban Maya dengan Perubahan Iklim

Peradaban kuno Maya, yang mengembangkan budaya berkelas di tengah hutan hujan Amerika Tengah, Stalakmit di gua Yok Balum memberikan kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari catatan curah hujan. (Foto: Douglas Kennett, Penn State)menghilang secara misterius seribu tahun yang lampau. Sekarang, sebuah tim internasional beranggotakan antropolog, arkeolog, ahli kimia dan ahli iklim mengatakan bahwa mereka telah mengidentifikasi sebab kehancuran Maya: Perubahan iklim.

Untuk menciptakan catatan cuaca dalam 2.000 tahun terakhir, para ilmuwan menganalisa formasi mineral alami yang disebut stalakmit dari sebuah gua di Belize, menggunakan penanggalan oksigen-isotop untuk menentukan curah hujan yang jatuh di wilayah itu selama berabad-abad lamanya. Stalakmit dibangun secara bertahap, seperti lingkaran pohon, saat air menetes melalui langit-langit gua, menyimpan catatan iklim yang akurat.



Monumen batu seperti yang ada di Caracol, Belize, mendokumentasikan pertarungan, kelahiran dan kematian pada suku Maya. (Douglas Kennett, Penn State)Monumen batu seperti yang ada di Caracol, Belize, mendokumentasikan pertarungan, kelahiran dan kematian pada suku Maya. (Douglas Kennett, Penn State)
Penguasa Maya memerintahkan pembangunan monumen batu untuk mencatat peristiwa-peristiwa penting seperti naik tahta atau kekuasaan, pertarungan besar, konflik masyarakat dan kerja sama strategis. Profesor antropologi Douglas Kennett dari Universitas Negeri Pennsylvania, yang turut menulis penelitian ini, mengatakan timnya dapat membandingkan perubahan dalam masyarakat yang didokumentasikan dalam monumen-monumen tersebut dengan garis waktu iklim yang mereka buat.

Dalam sebuah siaran podcast untuk jurnal Science, Kennett mengatakan timnya melihat hubungan antara tingkat curah hujan dan stabilitas politik.

“Perkembangan kebudayaan Maya dan pertumbuhan penduduk serta tingkat kemajuan ternyata berkorelasi dengan interval curah hujan yang tinggi yang berlangsung beberapa ratus tahun. Dan kejatuhan Maya ternyata berkaitan dengan penurunan iklim secara umum dan pengeringan iklim,” ujarnya.

Curah hujan yang tinggi mengarah pada panen dan ledakan penduduk, namun pembalikan iklim dan musim paceklik yang mendorong kelaparan, persaingan politik, peningkatan perang dan pada akhirnya, kejatuhan masyarakat.

Para ilmuwan telah lama menduga bahwa perubahan iklim memainkan peran dalam jatuhnya peradaban Maya, namun catatan waktu persis, yang dipublikasikan dalam
Science  - membuat mereka yakin dengan hubungan itu. Kennett mengatakan metodologi yang mereka pakai dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman akan pengaruh iklim terhadap budaya kuno lain yang juga memiliki sistem gua yang serupa.
Peradaban kuno Maya, yang mengembangkan budaya berkelas di tengah hutan hujan Amerika Tengah, menghilang secara misterius seribu tahun yang lampau. Sekarang, sebuah tim internasional beranggotakan antropolog, arkeolog, ahli kimia dan ahli iklim mengatakan bahwa mereka telah mengidentifikasi sebab kehancuran Maya: Perubahan iklim.

Untuk menciptakan catatan cuaca dalam 2.000 tahun terakhir, para ilmuwan menganalisa formasi mineral alami yang disebut stalakmit dari sebuah gua di Belize, menggunakan penanggalan oksigen-isotop untuk menentukan curah hujan yang jatuh di wilayah itu selama berabad-abad lamanya. Stalakmit dibangun secara bertahap, seperti lingkaran pohon, saat air menetes melalui langit-langit gua, menyimpan catatan iklim yang akurat.



Monumen batu seperti yang ada di Caracol, Belize, mendokumentasikan pertarungan, kelahiran dan kematian pada suku Maya. (Douglas Kennett, Penn State)Monumen batu seperti yang ada di Caracol, Belize, mendokumentasikan pertarungan, kelahiran dan kematian pada suku Maya. (Douglas Kennett, Penn State)
Penguasa Maya memerintahkan pembangunan monumen batu untuk mencatat peristiwa-peristiwa penting seperti naik tahta atau kekuasaan, pertarungan besar, konflik masyarakat dan kerja sama strategis. Profesor antropologi Douglas Kennett dari Universitas Negeri Pennsylvania, yang turut menulis penelitian ini, mengatakan timnya dapat membandingkan perubahan dalam masyarakat yang didokumentasikan dalam monumen-monumen tersebut dengan garis waktu iklim yang mereka buat.

Dalam sebuah siaran podcast untuk jurnal Science, Kennett mengatakan timnya melihat hubungan antara tingkat curah hujan dan stabilitas politik.

“Perkembangan kebudayaan Maya dan pertumbuhan penduduk serta tingkat kemajuan ternyata berkorelasi dengan interval curah hujan yang tinggi yang berlangsung beberapa ratus tahun. Dan kejatuhan Maya ternyata berkaitan dengan penurunan iklim secara umum dan pengeringan iklim,” ujarnya.

Curah hujan yang tinggi mengarah pada panen dan ledakan penduduk, namun pembalikan iklim dan musim paceklik yang mendorong kelaparan, persaingan politik, peningkatan perang dan pada akhirnya, kejatuhan masyarakat.

Para ilmuwan telah lama menduga bahwa perubahan iklim memainkan peran dalam jatuhnya peradaban Maya, namun catatan waktu persis, yang dipublikasikan dalam
Science  - membuat mereka yakin dengan hubungan itu. Kennett mengatakan metodologi yang mereka pakai dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman akan pengaruh iklim terhadap budaya kuno lain yang juga memiliki sistem gua yang serupa.

Kota Suku Maya yang Hilang Ditemukan di Hutan Meksiko