23 Juni 2013

Jayapura, MAJALAH SELANGKAH -- Direktris Yayasan Hak Azasi Manusia Anti Kekerasan (YAHAMAK) Timika, Papua, Mama Yosepa Alomang mengatakan Indonesia melakukan program terselubung untuk menghabisi orang asli Papua dengan berbagai program.
"Negara Indoensia stop dengan program-progaram yang nantinya membuat orang Papua habis perlahan sepert pemekaran, program Otsus Pus, UP4B dan lain-lain," tutur Yosepha saat menggelar Jumpa Pers di sekretariat Dewan Adat Papua (DAP), Expo, Waena, Senin (3/05/2013) lalu.
"Melihat situasi Papua pada umumnya serta melihat situasi perang di Kabupaten Nduga membuat saya menangis karena anak-anak yang keluar dari rahim Papua dibunuh perlahan-lahan oleh pemerintah NKRI melalui berbagi program yang dicanangkan," kata perempuan peraih Goldman Environmental Prize (Anugerah Lingkungan Goldman) 2001.
Sementara itu Wilem Rumasep yang hari-harinya bekerja di sekertariat DAP ini mengatakan, masalah di Nduga harus segera diselsesaikan oleh pemerintah dan kemudian disusul dengan proses penyelesaian secara adat dengan cara membayar kepala bagi pihak keluarga korban.
"Dalam hal ini, Bupati harus bersikap netral. Bupati  tidak boleh menjadi aktor konflik kasihan masyarkat sudah korban banyak," ungkap Willem.

Tanggapan juga datang dari salah satu pemuda asal suku Mee, Yustinus Edowai. Menurutnya, sudah cukup konflik terjadi hanya di kabupaten Puncak beberapa waktu lalu.
"Jangan lagi terjadi di Nduga. Kasihan masyarakat  kita sama-sama lihat pemerkaran ini dengan memakan korban yang banyak hanya karena kepentingan segelintir orang. Jadi kami juga meminta agar pemerintah kabupaten Nduga segera melakukan dialog untuk penyelesaian masalah perang saudara di Nduga ini sesegera mungkin," ungkap Edowai.
Sekedar ketahui, Mama Yosepha bersama seorang perempuan Papua lainnya, Mama Yuliana, pernah dimasukan ke sebuah tempat penampungan kotoran manusia selama seminggu. Kotoran manusia setinggi lututnya. Ia dicurigai membantu Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Mereka (TPN-OPM) wilayah Mimika, Papua. (MS)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar