26 Februari 2011

KEUNIKAN PADA SUKU DI PAPUA PENGUNUNGAN

KEUNIKAN PADA SUKU di PAPUA PENGUNUNGAN
(The Papuan Highland Ethnic to Unique )
By: Micky Gombo
PREFACE
The Papuan People is Wondeful Custom. Its expecialy Papuan Inland ethnic that unique. If you wanna see Papuan ethnic and they Custom rules, come and living with them. Realy, they have wonder style life. Sometime an other out sider people to claim and thinking that Papuan same as Cannibal People, never take bath, smell body, and stupid but you know that they keept something who elegant and different rich Custom, Culture and Resourch or Natural Capital to highest level ( Rich CCR/N). I fill down love with Papuan Inland because I saw different than an other people in the World. Right Naw, I will bring to you all come and fill down love with them and recpectful to them. Finaly, I PROUD BE PAPUAN INLAND, I PROUD BE LANI TRIBE, SUB LANI-WALAK TRIBE. AND AN OTHER TRIBES in Papua Highland so namely: Nduga, Yali, Mee, Damal, Kimyal and Other Tribes in Border East Papua New Guinea.
……………………………………………………………………………………………………………………………….
   
  A.  Pendahuluan (Introduction)

Tanah Papua Barat  (Hasan B.U,2010:01) dengan luas secara keseluruhan 421.981 km2 . Ditinjau secara geografis 1300 – 1410 Bujur Timur dan 20 251 Lintang Utara – 90 Lintang Selatan dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

Sebelah Utara           : Samudera Pasifik (Pacific Ocean)
Sebelah Selatan         : Laut Arafuru ( Arafuru sea)
Sebelah Barat          : Laut Seram( Seram Sea), Laut Banda(Banda Sea), Tanah Orang Mollucas.
Sebelah Timur           : Tanah orang Papua Timur (East New Guinea).

Tanah Papua ini dibagi oleh pemerintah Indonesia menjadi 29 kota/kabupaten. Kabupaten terluas menurut catatan pemerintah Indonesia di Papua yaitu Merauke dengan luas daerah 4.397 931 km atau 10,42% dari total luas tanah Papua. Sedangkan Supiori merupakan daerah yang luasnya terkecil yaitu 77,456 km2 atau 0,18% dari luas tanah Papua.
Selain mengenai kondisi Geografis diatas adapula kondisi suhu tanah Papua yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia melalui Badan Meterologi dan Geofisika (BMG) di kota Numbai-Papua yaitu 22,6 C – 30,6 C. Lalu suhu terendah terdapat di kota Lembah Agung (Barlim Grand Land Valley ). Kemudian suhu kota tertinggi di kota orang Moor/Mee Nabire. Lalu, Tanah Papua merupakan daerah tropis dengan wilayah kepulauan,  maka Tanah Papua memiliki kelembaban udara relative sama dengan daerah lain di sepanjang garis katulistiwa ini, yaitu berkisar antara 80-84% sedangkan curah hujan rata-rata 2.668 mm, dengan jumlah hujan tertinggi tercatat oleh stasiun pencatat  dilandikma 4.504 mm dan terendah di stasiun Agats yang tercatat sebesar 908 mm (Hasan, 2011:02). Atau di tanah Jawa, Sumatera, Celebes dan Timor Barat, Flores, dll nya.
 Selanjutnya, Papua Pengunungan adalah orang-orang Papua mendiami di Punggung pengunungan Jayawijaya dan Puncak Jaya serta suku-suku lain di sana.  Papua pengunungan didiami oleh beberapat suku besar, yaitu: Suku Lani, Suku Loma/Damal, Suku Ekari/Mee, Suku Yali, Suku Kimyal, Nduga, dan Suku-suku di daerah perbatasan Papua New Guinea( Oksibil dan daerah Kiwi).

Dari sekian suku tersebut ada suku-suku kecil yang tersebar diantaranya, suku Walak, Suku Gem, dan suku Mbok. (Diktat:Markus Kilungga, 2010). Disana setiap suku memiliki keunikan tersendiri dalam system pertanian, system kekerabatan, system perang, dan system upacara keagamaan serta perkawinan. Mereka menggunakan etika dalam berbagai kegiatan tadi. Mereka bertindak tidak sembarang, namun mereka memiliki etika serta sapaan-sapaan elegant yang sangat sulit dipahami oleh suku lain. Misalnya: Menegur orang lain melakukan kesalahan tidak langsung memarahi dengan kata kasar, tetapi memujinya. Selain itu meminta sesuatu kepada orang lain, tidak menyebut nama bendanya, tetapi menyebut nama benda lain, missal meminta seekor babi tetapi meminta daun pisang.

Selanjutnya penjelasan etika tersebut dijelaskan pada bagian (E). Ada banyak keunikkan yang hilang begitu saja oleh pengaruh peradaban luar. Generasi sekarang di Papua sudah tidak beradab lagi, sebab tak sedikit dari mereka telah mengadopsi budaya luar terlalu cepat sehingga sulit dibendung lagi, dan mereka menganggap sapaan begitu sapaan kuno dan ketinggalan jaman. Pemahaman seperti ini akan membahayakan bagi dirinya dan bagi generasi berikutnya.
Semoga generasi sekarang ingin memilih untuk belajar kembali norma dan etika budaya sendiri. Kami berharap generasai Papua yang ada dan lahir ditanah ini semoga mau belajar akar budaya anda dan sekaligus mencintai dan mengasihinya. Sebab budaya dan adat yang beradap adalah Hukum Tuhan (God Rules), sehingga mencintai dan melestarikannya Dalam sepanjang hayat.

B.Dua bagian Marga Besar (Moety)
Untuk menjelaskan bagian ini, penulis sebagai orang Barlim/Lani, coba mengupas sedikit keunikan yang mengandung etika dan juga sistem yang tertata begitu rapi serta menyimpan misteri yang sangat dalam dan sulit dipahami secara rasio komunitas lain, namun itu harus terjadi dan dijaga sepanjang generasi Lani -Papua.(Agus Alua, 2006)
 Pada suku orang Lani/Loma ada  dua bagian marga besar atau disebut moety atau dua moety, yaitu Wenda dan Waya. Atau sering orang Lani sebut dengan Wenda-Waya. Sistem ini juga dianut oleh sub-sub suku Lani lain, seperti, Walak, Gem dan sebagian suku Yali di daerah Past Valley/Landikma, karena mereka masih bersaudara orang Walak.  Untuk melihat anggota/elemen dari Wenda-Waya dapat dilihat dibawah table ini:

Tabel Moety atau Marga(Fam) Suku Lani
WENDA
WAYA
Wenda
Yikwa
Kosay
Gombo
Yigibalom
Yigi
Murib
Mosip
Asso
Mulait
Komba
Mabel
Matuan
Weya
Kogoya
Tabuni
Hubi
Wandik
Wanimbo
Wetipo
Karoba
Alua
Logo
Doga
Arumbu
Kenelak

















C.   Suku (Tribe/Ethnic)
Suku berarti kelompok manusia yang mendiami disuatu tempat/habitat dengan memiliki system tertentu yang dianutnya. Sistem yang dimaksud disini adalah suatu tatanan kebiasaan/tradisi atau adat istiadat yang dianut turun-temurun oleh kelompok atau suatu komunitas masyarakat itu. Misalnya suku Lani , berarti suku Lani berbahasa lani/kaonak dan memiliki sistem perang, dan sistem-sistem lainnya yang telah teratur dan menjadi bagian dari hidupnya dan sulit sekali diubah oleh pengaruh apapun dari luar komunitasnya.
Orang Lani tersebar dibeberapa tempat yaitu: Di lembah agung, dan bagian barat Jayawijaya serta bagian utara.
Hal ini dapat dilihat dari beberapa kesamaan bahasa, peralatan busana, marga serta kebiasaan-kebiasaan lainnya. Suku Loma atau Damal mendiami diantara suku Ekari atau Mee dan Lani. Mereka menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa/dialeg Lani Barat (West Lani Dialeg) dan Bahasa Loma/Damal sendiri. Dan selain itu juga mereka bisa berkomunikasi dengan bahasa Mee. Selain suku Damal ada pula suku Mee dan Moni. Bagian selatan terdapat suku Nduga, Amungme. Orang Nduga bisa berkomunikasi dengan bahasa Amungme dan bahasa Lani. Disebelah selatan Jayawijaya dan Timur didiami oleh Suku Yali dan Kimyal. Suku Yali dapat berbahasa Lani dialeg Grand land Valley.

D. Etika Perang Suku ( Tribes Battle Ethics)
Keunikan yang ada pada orang Lani yaitu ada etika perang yang digunakan secara turun temurun dan menjadi tradisi yang sangat beradap. Orang Lani pada umumnya dari sejak jaman dulu talah menyepakati oleh nenek moyang bahwa “Tidak boleh perang pada malam hari” . Itu merupakan bagian dari etika perang dan hal itu disepakati karena pertimbangan khusus seperti, "tak ada manusia yang mampu bertahan pada malam hari" dan sama seperti malaikat (madly/monggar)  yang tak pernah tidur. Setiap orang pasti beristrahat /tidur pada malam hari sehingga itu dilarang keras sebagai sebuah hukum Universal dikalangan orang Lani. Lalu menjadi pemimpin atau Kepala Suku besar (big man) atau Kepala Perang tidak pernah/tidak boleh dibunuh, ketika melakukan perjalanan ke daerah musuh. Perempuan dan anak-anakpun tidak boleh dibunuh saat perang oleh kedua belah pihak yang bermusuhan (terutama suku Lani Barat). Selain itu tidak boleh membunuh atau menombak/memanah orang dari arah belakang. Membunuh cukup dua atau tiga tusukan tombak, jika belum mati menambah tusukan dibagian yang layak. Ada pengecualian dalam membunuh. Pengecualian tersebut yaitu tidak membunuh/menombak orang dibagian muka atau alat kelamin. Setelah membunuh dengan tombak atau panah harus memberitahukan kepada pihak musuh, bahwa Si A telah dibunuh/sudah bunuh dan ditempatkan disini. Menunjukkan tempat letaknya mayat, agar mereka datang menjemputnya. Mereka tidak menjaga mayat tersebut agar pihaknya datang mengambil mayat dengan leluasa untuk dimakamkan/dibakar.

Lokasi perangpun tidak pernah pindah-pindah. Lokasi atau area perang sudah ditentukan sejak nenek moyang hingga pada generasinya. Ada doa/mantera yang dibacakan sebelum perang. Hampir semua kelompok honay mengaku dosa kepada kepala perang agar jangan banyak terbunuh ketika perang berlangsung. Pemimpin melakukan pengecekan para anggota dan kelompok honai adat. Pada saat perang ada sistem gotong royong antar sesama anggota/prajurit. Alat perang yang digunakan tombak(lembing), busur dan panah tak beracun. Busur terbuat dari pohon enau, dan panah terbuat dari kayu khusus (yorli, rlibo) dan bamboo(wim). Alat perang lain digunakan tulang kasuari atau tulang babi (tombandul).

E.    Etika Menyapa ( Talk Ethic )
Dalam menegur atau menyapa sesame menggunakan istilah yang sangat elegant sekali. Istilah yang digunakan oleh orang Papua gunung terutama orang Lani Barat dan Walak ini sangat Unik sekali.
Misalnya, ketika memanggil orang tidak memanggil namanya, tetapi memanggil marga mamanya. Contoh memanggil Yafet Kogoya dan mamanya marga Wenda berarti memanggil “ Wendanak “. Atau kalau Yafet kogoya tinggi perawakannya berarti “ Uakilu”. (Sofyan, 2010).
Selain itu Marthin Karoba dan mamanya bermarga Gombo berarti memanggil dia “Gombonak”. Selain itu memanggil wanita bukan memanggil namanya tetapi cukup memanggil marga saja. Contohnya: Diana Yikwa berarti memanggil “ Yikwagwe “. Leni Kogoya berarti memanggil “Kogoyagwe”. Kalau Lisa Gombo berarti memanggil “ Gombogwe”. Dsb.

F.    Struktur Pemerintahan Adat ( Custom Govertment of Structur)
Struktur Pemerintahan adat tidak Struktur Kerajaan, seperti sistem kerajaan pada umumnya dipakai oleh suku lain di Indonesia maupun dibelahan dunia lain. Orang Lani yang dianggap sebagai orang besar atau kepala suku besar (big man) itu tak pernah dipilih oleh orang lain seperti pemilihan legislatif sekarang. Dia memang lahir dan besar sendiri dan mempunyai pengaruh sendiri tanpa ada yang memilihnya. Orang Papua juga tak mengenal istilah darah biru, seperti kerajaan di Jawa. Orang Lani tak ada kaum nigrat dan kaum jelata seperti di Jawa dan pulau lainnya.

Pemimpin lahir sendiri melalui proses alam, maka disebut pemimpinan alamiah. Pemerintahan tidak mepunyai struktur seperti kerajaan daerah atau suku lain tetapi semua itu terbentuk dan terwujud sendirinya. Seorang pemimpin disuku Lani tak pernah meminta upeti kepada warganya.Pemimpin Lani tak pernah berfikir untuk memperkayah diri dan korupsi seperti orang Melayu dalam pemerintahan Indonesia dan negara lain dibelahan dunia lain sana.
Hak kepemilikannya diakui dan dijaga bersama oleh suku tersebut dan dinikmati bersama, tetapi diatur oleh sang pemiliknya. Kepala Suku tak pernah mengatur kekayaan warganya bahkan meminta bahkan mengambil sewenang-wenang oleh tentara kerajaannya seperti raja-raja di Jawa, Celebes, dan Todore atau Ternate.
Kepala Suku justru memberikan kepada masyarakat yang berkekurangan harta.Dia membantu dengan iklas tanpa meminta balik dan mengenal sistem bunga.
Dengan demikian pada umum di suku Lani ada tiga Pemimpin Besar yang memiliki posisi yang sama, namun tugas dan fungsi yang berbeda, yaitu:
1.      Kepala Perang (Ap Ngain Wim Mende)
2.      Kepala Ternak ( Ap Nggain Wam Mende)
3.      Kepala Pertanian ( Ap Nggain Erom Mende)
4.      Kolaborasi 3 Pemimpin ini untuk mengatur
Anak-anak, dan Ibu-ibu.
Jadi intinya adalah system yang dianut dalam kepemimpinan adat suku Lani adalah system pemerintahan dengan “Struktur Paralel”.
Struktur SKEMA:





Keterangan Skema:
1.    Ketiga Kepala Suku Memerintah dan mengatur masing-masing tugas Pokok mereka, namun mereka tetap saling kerja sama dalam hal diluar tupoksi mereka.
2.  Ketiga Kepala Suku berkolaborasi untuk mengatur anak dan ibu secara tidak langung, walaupun tak diatur secara resmi. Mereka masih dibawah naungan mereka berarti para kaum perempuan anak-anak diatur oleh ketiga kepala suku tersebut.
3.  Para Kepala Suku tersebut masing-masing memiliki stap ahli atau pembantu yang menangani khusus tugas-tugas tertentu. No, 1,2 dan 3 itu adalah posisi staf ahli atau asisten.

………………………………………………………………..
Reference: Kita Meminum Air dar Sumur Kita Sendiri,2010.Duma S.Sofyan, Amanat Agung di Tanah Papua 1939-1962, 2008. Rev.John Gobay, S.Th, Kolonialisme dan Cahaya Dekolonisasi Papua Barat, 2010. Ibrahim Peyon. Karakteristik Dasar Agama-agama Melanesia, 2006. Agus A.Alua, MA. Tantangan Gereja dan Karya Sosial Gereja di Tanah Papua, 2009. Mikhael A. Tekege, Pr. General Psychology, (Psikologi Kepribadian, Persepsi, Kognisi, Emosi & Perilaku),2008.Dr. C.George Broeree. Kamus Ilmiah Populer, 1999. Pius A, Partanto, M. D. Al Barry. Kamus Kantong Inggris –Indonesia, 2000. A.L.N KRAMER, Sr. Diktat Perkuliahan Prgram Magister Ekonomi Pembangunan, 2010. Prof.Dr. Hasan B.Umar, MS., Nilai-nilai Hidup Masyarakat Hubula di Lembah Barlim Papua,2006. Agus A.Alua,MA. Diktat Seminar Mahasiswa dan Masyarakat Suku Walak, Rumah Bina Waena, 2010. Markus Kilungga, S.Th)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar