20 November 2011


100_1503.JPGPERSEPSI MASYARAKAT PINGGIRAN
By
(Eragok Bema Nen)
Perubahan Pembangunan Fisik pada umumnya di Papua saat ini termasuk bisa dibilang It’s OK. Banyak bangunan Toko, Ruko, Rumah  makan dll. Semua secara fisik memang tak diragukan lagi. Misal kabupaten/kota provinsi Papua, dan kabupaten Jayawijaya beberapa waktu terakhir ini. Salut pak Wempi. Beliau benar-benar “GILA berfikir dalam arti positif” or “REVOLUSIONER dalam style of thinking-nya. Sekali lagi SALUTE. Perlu ada dukungan dari para Kadis, kepala Badan dan kepala-kepala seksi maupun siapun berada system kabinetnya mampu menerjemahkan secara hirarkional. Artinya: Orang-orang yang duduk dibawah mampu menerjemahkan pikiran Bupati lalu sampaikan pada kepala-kepala seksi serta aplikasi memenuhi hutang kepada rakyat.
Tetapi sayangnya, semua pembangunan itu hanya berpengaruh pada peningkatkan PAD dan memungkinkan para pedagang atau New Kapitalis(pemilik modal) dari suku luar semakin kaya raya. Maka singkat kata OTSUS menjadi peluang  bagi mereka. Bukan mensejahterakan orang Papua. Ingat walaupun dana Otsus tidak dibagi secara langsung kepada orang pendatang, namun mereka tahu siapa  orang Papua, artinya Para analis dan orang Non Papua yang hidup bertahun-tahun di Papua mengetahui benar sisi kelemahan orang Papua. Orang Papua menganut atau memiliki karakter KONSUMERISME. SIKAP/KARAKTER KONSUMERIS inilah ditangkap oleh para pengusaha non Papua, lalu menguasai pasar bahkan urat nadi ekonominya.
Kalau bisa diatur para pemimpin Papua membangun Home Industri, seperti di Yogya dan Bali. Semua masyarakat dilindungi/diproteksi beragam potensi usahanya. Bersaing secara sehat. Dari semua itu pak Bupati Jayawijaya perlu memberikan jaminan ekonomi dalam pasar local maupun nasional kepada masyarakat Papua-Jayawijaya. Salah satu kasus jual kayu api maupun buah pinang serta sayur mayor dilakukan oleh orang Pendatang sambil menjual barang di Ruko, atau Toko yang berskala besar. Kalau begini bagimana Papua atau Wamena bisa bangkit.
Maka benarlah tergenapi judul bukunya Sendius Wonda, Tenggelamnya Etnis Melanesia. Mereka tenggelam dari sisi ekonomi. Ekonomi mereka dibawah atau berada posisi di kwadran III, jika dilihat dari analisis system sumbu koordinat. Analisis SWOT telah memberikan konklusi seperti itu, sangat dikwatirkan Papua ini bisa bangkit seperti yang diiharapkan oleh para pemilikya bahkan orang Luar yang terinspirasi dengan keindahan di Papua. Papua is my land and PapuA is my heritage.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar