14 Februari 2012

Loh…? Al-Qaeda Kompak Dukung AS di Suriah
Senin, 13 Februari 2012 | 11:14
[KAIRO] Pemimpin jaringan terorisme Al-Qaeda, Ayman al-Zawahri, mengisyaratkan dukungannya pada keinginan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat untuk menggulingkan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Pengganti Osama bin Laden yang tewas dibunuh oleh pasukan khusus AS itu, Minggu (12/2), menyerukan Muslim di Turki, Irak, Libanon dan Yordania untuk membantu pemberontak Suriah.  

Pernyataan Zawahri itu dipublikasikan melalui situs jihad, seiring dengan pembicaraan Liga Arab di Kairo, mengenai langkah yang akan diambil terkait krisis Suriah.  

Sebelumnya, Rusia dan Tiongkok memblokade rancangan resolusi di Dewan Keamanan (DK) PBB yang menyerukan Assad untuk mundur. Kini negara-negara Arab yang menjadi sekutu AS itu berencana mengusulkan pengiriman pasukan Liga Arab ke Suriah.  

Suriah telah hampir setahun didera kekacauan akibat kekerasan yang dilakukan kelompok pemberontak bersenjata yang disponsori asing. Berbagai laporan memastikan kelompok pemberontak Suriah memperoleh dukungan dana dan senjata, serta pelatihan militer dari AS dan NATO di wilayah Turki yang berbatasan dengan Suriah.

Hisham Jaber dari Pusat Studi Timur Tengah, mengatakan Washington dan Al-Qaeda memiliki musuh yang sama di Suriah.   “Tampaknya Al-Qaeda dan blok Barat memilih arah dan sasaran yang sama, yaitu menghancurkan pemerintahan Assad di Suriah. Al-Qaeda tidak pernah membantah keberadaan mereka di Suriah dan tidak pernah menolak dukungannya bagi pemberontakan di Suriah,” kata Jaber.  

Al-Qaeda merupakan kelompok yang berasal dari Sunni Arab, sementara Bashar berasal dari Alawite yang merupakan cabang dari Syiah.   Sebagian besar masyarakat Suriah telah menegaskan penentangan mereka atas intervensi asing, dan tuntutan Barat untuk menggulingkan pemerintahan Assad yang selama ini melindungi kelompok-kelompok minoritas Islam maupun Kristen, dengan mempertahankan pemerintahan yang sekuler.  

Masyarakat Suriah khawatir atas apa yang terjadi di Irak, di mana kelompok minoritas kini terus menjadi sasaran penyerangan setelah ditumbangkannya Saddam Hussein. [RT/B-14]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar